laman

Tampilkan postingan dengan label Agama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Agama. Tampilkan semua postingan

Minggu, 08 April 2012

Ikhwatul Iman



Jadi ikhwah jangan cengeng…
Status facebook tiap menit beda..
Isinya tentang curahan hatinya..
Nunjukkin diri kalau lagi sengsara..
Minta komen buat dikuatin biar ga’ nambah nelangsa..
Duh duh.. status kok bikin putus asa..
Dikemanakan materi yang dikasih ustadz/ah baru saja?
Segera istigfar ikhwah ya..^_^

Nih 12 nasehat untuk kita semua..
Ke 12 Nasehat itu adalah :
1. Jauhilah olehmu banyak bicara (yang tidak bermanfaat) dan jagalah mulutmu dari cerewet. wah wah ini dia kebiasaan yg sulit di hilangkan cerewet,.. tp chayoooo pasti bs ko,..
2. Bacalah Al-Qur’an Al-Kariem, dan berusahalah agar ia menjadi wirid harianmu, juga berusahalah untuk menghafalkannya..okeh ^_^d
3. Tidak baik jika kamu membicarakan semua pembicaraan yang telah kamu dengar, sebab yang demikian itu memberi peluang kepadamu untuk jatuh dalam lubang kebohongan.. 
4. Jauhilah sifat sombong dan bangga diri dengan sesuatu yang bukan milikmu karena untuk pamer dan menyombongkan diri di depan manusia..nah loh??
5. Sesungguhnya dzikir kepada Allah memiliki pengaruh yang agung bagi kehidupan ruh, jiwa, badan, dan sosial seorang muslim. 
6. Jika engkau hendak berbicara janganlah engkau agung-agungkan, jangan engkau fasih-fasihkan, dan jangan pula engkau buat-buat, sebab yang demikian itu adalah sifat yang dibenci oleh Rasulullah Shallahu ‘Alaihi wa Sallam 
7. Hendaklah engkau berteladan kepada Rasulullah Shallahu ‘Alaihi wa Sallam , yang senantiasa lebih banyak diam dan berfikir, tidak memperbanyak tertawa apalagi berlebih-lebihan di dalamnya.
8. Janganlah sekali-kali memutus pembicaraan orang lain atau membantahnya atau menampakkan pelecehan terhadapnya,tetapi jadilah pendengar yang baik yang mendengarkan pembicaraan orang lain dengan sopan (sebagai tanda budi baikmu),
9. Waspadalah sepenuhnya dengan sikap mengejek dan merendahkan dialek pembicaraan orang lain, seperti terhadap orang yang kurang lancar bicaranya atau terhadap mereka yang berbicara dengan tersendat-sendat.
10. Jika engkau mendengar bacaan Al-Qur’an al-Karim, maka hentikan pembicaraanmu apapun masalah yang sedang engkau bicarakan, karena menghormati terhadap kalamullah,
11. Senantiasa menimbang kata-kata (ucapanmu) sebelum diucapkan oleh lisanmu
12. Pergunakanlah lisanmu untuk beramar ma’ruf dan nahiy munkar serta untuk berdakwah kepada kebaikan, karena lisan adalah nikmat Allah yang agung yang telah dikaruniakan kepadamu.
Nah sekian deh 12 nasehat nya,. semoga bermanfaat buat semuanya ya,..
“Unzhur mâ qâla wa lâ tanzhur man qâla.” (Prhatikanlah apa yang dikatakan dan jnganlah kau prhatikan siapa yg mngatakan)
Al haqquminallah wa khoto mini ( kesempurnaan datang dari Allah dan kehilafan datangnya dari akhwatul iman ) afwan kabir..
Aku Menerimamu Apa Adanya !!



BIDADARI SYURGA DUNIA 

Bidadari Syurga dunia...
Ada senyum yang terukir indah dimuka.. 
Ada bias rona merah di wajah..
Memantulkan warna hati si jiwa Syurga 

Bidadari Syurga dunia.. 
Wajah yang senantiasa putih dan menawan 
Berhiaskan air wudlu yang terpancar.. 
Menambah pesona hiasan mata.. 

Bidadari Syurga dunia.. 
Yang senyumnya selalu merekah.. 
Yang parasnya mempesona.. 
Yang hatinya selembut sutra.. 

Bidadari Syurga dunia.. 
Jadi dambaan setiap wanita.. 
Impian diri wanita sholehah 
Qonitat dan berhati bunga.. 

Bidadari Syurga di hati luka.. 
Yang pucatkan muka si durjana 
Yang tepiskan angan dunia.. 
Yang hatinya bagaikan kaca.. 

Bidadari Syurga di hati dunia.. 
Yang siangnya bagaikan singa di rimba
Yang malamnya bagai sufi perindu 
Syurga Zuhud selendang pengikatnya.. 

Bidadari Syurga dunia.. 
Dimana pun berada kau tetap setia 
Pada Allah, Rasul dan juga Dien-Nya.. 

Kemana lagi kan kucari Bidadari Syurga Dunia.. 
Di arusnya dunia merana.. 
Sentuhanmu bangkitkan rasa.. 
Hingga syahid ku jumpa di pintu Syurga..
Izinkan Aku Menikah Tanpa Pacaran



Berharap dengan Awal yang baik memperoleh akhir yang baik....


Di Usiaku yang sudah tak lagi remaja , aku kembali termenung... 
Menikah adalah Impian setiap pria dan wanita yang ingin menyempurnakan setengah Diennya.
Banyak sudah dari teman sebayaku yang sudah melepas masa lajang mereka. Bahkan tidak sedikit diantaranya yang sudah menjadi seorang Ibu dan Ayah. Subhanallah... Bahagianya ku menyaksikan Indahnya kehidupan berumah tangga.

Banyak cara yang di tempuh untuk menjemput jodoh/pasangan hidup kita. Di antara banyaknya cara tersebut, PACARAN selalu menjadi pilihan yang mayoritas di ambil oleh lingkungan sekitar kita. 
Ada yang memilih tetap bertahan dengan hubungan itu dengan alsan mungkin sudah garis hidupku seperti ini. Sepasrah itukah?? atau memang kita memang enggan untuk beranjak dari kenikmatan yang telah melenakan?? Bukankah Allah berpesan bahwa "Dia tidak akan merubah nasib kita andai kita berdiam diri dan enggan merubahnya?" Itu berarti Allah masih memberi kita kesempatan untuk menjadi baik dan memilih takdir yang lebih baik bukan???
Ada lagi yang tetap bertahan mencintai seseorang yang tidak sepatutnya di pilih. Kenapa?? Pasti ada yang bertanya "SOK TAHU DEH KAMU, EMANGNYA KAMU TUHAN YANG TAHU SEGALANYA?? " Bukan, bukan saya sok tahu.. Saya hanya mengutip pesan Rasulullah agar memilih pasangan yang baik agamanya. Jadi jika memilih seseorang tanpa agama yang baik atas dasar cinta dan nafsu ingin memiliki, itu berarti kita telah memilih orang yang salah dan memilih takdir yang salah.


Lalu saya kembali termenung.. Banyak yang berkata , Kami sudah menjemput jodoh dengan jalan TIDAK PACARAN, dan memilih yang baik agamanya.. Tapi ternyata hasilnya tetap tdk sesuai harapan. Jika pernyataan seperti ini hadir meneror hatiku, aku akn menghibur diri dengan kata-kata ini " Mungkin kebaikan itu bukan pada orang yang kau pilih, melainkan pada jalan yang kau pilih, atau mungkin kabaikan itu terletak pada kesabaran dan keikhlasan kita menerima Ketentuan dari Allah"
Maka aku akan tetap yakin dengan prinsipku untuk menikah tanpa PACARAN.

Jika ada yang berpendapat Pacaran itu untuk mengenal lebih dalam calon pasangan kita? sedalam apa??? Bukankah dalamnya lautan bisa di selami sedangkan hati orang siapa yang tahu?? Lagi pula dalam Pacaran pasti ada saja yang tersembunyi baik itu di sengaja maupun tidak sengaja di sembunyikan. Lalu apa bedanya dengan Ta'aruf yg hanya mengenal 3bulan Yang justru lebih aman dan menyelamatkan iman, Ada lg yang bertanya apatidak terburu-buru memimilh calon seumur hidup hanya dalam tiga bulan?? Tidak, kenapa?? Orang yang berta'aruf adalah orang yang sudah siap menikah, dan berta'aruf itu sangat mengutamakan kejujuran dari kedua belah pihak,bahakn tidak hanya itu,kita juga mecari tahu akhlak dan kepribadiaannya tak hanya lewat mulutnya,tak hanya lewat tingkahnya di depan kita,tapi lewat lingkungan sekitar yang mengenalnya. Setiap keputusannya pun akan diserahkan kembali kpd Allah lewat Istikharoh kita minta jawaban yang terbaik dari Allah.

Masih ku ingat jelas pesan seorang Ibu ketika anaknya berpacaran lewat dunia maya:

"Wahai bauah hatiku, Jika kamu Ingin membina sebuah keluarga yang penuh keimanan, kamu tidak akan dapat membinanya diatas perkara yang Allah telah menyatakan sebagai suatu kesalahan dan terbukti tidak pernah Rasulullah ajarkan. Keluarga bahagia dan di berkahi adalah dengan kehendak Allah, dan kamu tidak punya daya apapun untuk menciptakan sebuah kebahagiaan dan keberkahan dalam rumah tanggamu, jika langkah pertama yang kamu pijak adalah dengan memasuki area yang telah jelas Dia(Allah) larang. Kamu tidak dapat memiliki keluarga yang bahagia jika Allah tidak membantumu. Dan kamu harus tahu, keluarga yang utuh hingga ke ajal mereka tidak lain karena Ridha Allah bersama mereka, kamu tidak bisa mengharapkan Dia akan membantumu jika kamu melakukan langkah yang salah pada permulaannya."

Aku hanya ingin mengawalinya dengan jalan yang baik.. Dan semoga aku mendapatkan yang terbaik di perjalanan rumah tanggaku nanti.. Dan mendapat akhir yang baik di akhirat kelak. Aku hanya ingin mencoba berjalan mematuhi rambu-rambu di jalan terjal kehidupan dunia ini.. agar perjalananku yang singkat ini bisa selamat sampai tujuan, Yaitu menatap Wajah Allah dan menjadi Penghuni Jannah-Nya.


Aku hanya ingin melakukan yang terbaik yang bisa aku lakukan.. Meskipun aku tidak pernah tahu apakah amalanku di terima atau tidak oleh-Nya. Apapun yang aku lakukan hanya dengan satu harapan.. Yaitu Rahmat dan Keridhaan-Nya. Karena amalanku tentunya tidak lbeih banyak dari dosaku yang demikian menggunung. Tanpa Rahmat-Nya.. Siapapun dan apapun tidak dapat menyelamatkanku.


Wallahu'alam Bi Shawab.
Artikel Remaja



JANGAN CUMA ISLAM KTP !!!

Bismillah..
Assalamualaikum..sahabat-sahab​atku
sudah lama rasanya tak terbitin artikel remaja lagi.
...
okeh kembali ke pembahasana kita.. cikidot !! :D
Jadi inget judul sinetron ya pas kamu baca judul artikel remaja islam edisi pekan ini? Kalo yang ngikutin ceritanya mesti tahu dan hapal banget deh. Nah, ane sengaja nih bahas ni tema, tetapi bukan ngomongin filmnya. Kita ngobrolin tentang diri kita yang baru berislam sebatas tercantum di kolom agama dalam KTP kita. So, di artikel ini kita bahas bahwa seorang muslim yang keren dan hebat itu bukan menganggap Islam cuma nyangkut di KTP-nya doang. Tetapi memang harus dipraktikkan dalam kehidupan nyata, dalam kesehariannya. Dia juga percaya diri sebagai muslim. Setuju kan?


Bro en Sis, saya prihatin banget dengan kondisi remaja muslim saat ini. Sumpah! Kok ada ya remaja yang masih merasa minder jadi muslim? Kebangetan deh jaman kiwari masih beredar remaja yang nggak pede alias nggak percaya diri jadi seorang muslim. Padahal, identitas kemusliman kita bakalan jadi ukuran. Apalagi di tengah arus deras informasi dan perang opini yang kerap bikin kita ‘pusing-mual-mencret’ kalo dapet sebutan muslim radikal atau fundamentalis. Cuma orang yang rasa percaya dirinya tinggi dan keimanannya mantap aja yang bakalan tahan bantingan. Insya Allah.

Bro en Sis, ketika kita memiliki rasa percaya diri, kita tahu apa yang kudu kita lakukan. Kita bisa ngukur diri. Itu sebabnya, orang yang percaya dengan kemampuan dirinya, biasanya bakalan rileks en tanpa beban dalam berbuat. Ini, tidak saja membawa hasil maksimal, tapi juga antistres. Nggak percaya? Silakan dicoba. So, jadi muslim kudu pede!

Yup, rasa percaya diri emang kudu ditumbuh-kembangkan dalam diri kita. Kita rawat, kita bersihkan, kita poles dengan apik, dan kita sirami agar terus bersemi. Kita rawat dengan terus mengasah kemampuan yang kita miliki. Kita bersihkan segala yang kita anggap menghalangi semangat hidup kita. Kita pun rajin mengobati dan ‘membunuh’ rasa malas yang bersemayam di hati kita agar berubah jadi energi positif yang akan menggerakkan turbin di hati untuk terus memproduksi ketekunan dan kekuatan untuk hidup. Jangan lupa, kita juga menyirami relung hati dan akal kita dengan asupan ‘gizi’ tentang keyakinan akan masa depan. Terus disirami agar senantiasa tumbuh subur. Sehingga kita berani bilang, “Jangan pernah menatap masa depan dengan mata penuh ketakutan”. Bisa kan?

Insya Allah, semua itu akan membuat kita tak pernah merasa terbebani. Kita akan menatap masa depan dengan penuh semangat dan tentunya tak mudah goyah dengan berbagai godaan en rayuan. Mulai dari rayuan pulau kelapa ampe rayuan gombal sekali pun. Nggak mudah percaya ama rayuan yang bakal melunturkan idealisme dan rasa percaya diri kita.

Salah paham tentang Islam

Sobat muda muslim, ada lagi penyakit yang menerpa kaum muslimin saat ini, yakni salah paham terhadap ajaran Islam. Intinya, Islam nggak dipahami dengan benar dan baik oleh kaum muslimin. Mengapa ini bisa terjadi? Setidaknya ada tiga faktor. Pertama, kaum muslimin salah mengambil jalan hidup. Bukan Islam yang diambil, tapi ideologi selain Islam. Mereka menganggap bahwa Islam tak bisa menjadi alat perjuangan, sehingga tak perlu dilibatkan mengatur kehidupan. Kedua, kaum muslimin tidak utuh mempelajari Islam. Ketiga, adanya upaya sistematis mengaburkan pemahaman Islam yang dilakukan oleh musuh-musuh Islam melalui tokoh-tokoh yang berasal dari kaum muslimin hasil didikan musuh-musuh Islam. Halah, lengkap sudah penderitaan kaum muslimin saat ini, Bro.

Faktor pertama yang memicu salah paham tentang Islam adalah karena kaum muslimin salah dalam mengambil jalan hidup. Wah, ini sih pastinya bukan cuma salah paham, tapi yang jelas udah salah jalan, karena salah mengambil sumber informasinya. Kayak orang mau bepergian ke suatu tempat, tapi peta jalannya salah. Ya, nggak nyampe tujuan. Bukan saja nggak nyampe, tapi tersesat. Tul nggak?

Beberapa bukti atas fakta ini adalah, banyaknya kaum muslimin yang memperjuangkan feminisme, demokrasi, sekularisme, kapitalisme, bahkan sosialisme dengan menganggap bahwa paham-paham tersebut lebih relevan untuk saat ini. Waduh, celaka banget tuh. Sebab, sejatinya ide-ide itu bertentangan dengan Islam dan bahkan menentang Islam. Ide yang berbahaya. Akibatnya dalam tataran praktik, nggak sedikit kaum muslimin yang bangga menyandang istilah “Kiri” (baca: kaum sosialis) hingga akhirnya mereka berjuang di masyarakat dengan cara-cara seperti yang dilakukan kaum sosialis (misalnya unjuk rasa anarkis dan menggunakan kekerasan fisik), ideologinya pun ya sosialisme-komunisme. Padahal dirinya muslim, lho. Tulatit abis!

Oya, nggak sedikit pula dari kaum muslimin yang merasa sudah menjadi manusia seutuhnya ketika memperjuangkan demokrasi. Maka, seks bebas tumbuh subur, pergaulan bebas antara laki dan perempuan jadi tradisi, pengingakaran terhadap agama juga marak. Menyedihkan sekali bukan? Inilah buah dari salah mengambil informasi jalan hidup, karena menganggap Islam tak mampu menyelesaikan kehidupan hingga akhirnya memilih kapitalisme dan juga sosialisme. Hmm.. kasihan banget!

Sobat muda muslim, untuk faktor kedua yang memungkinkan munculnya salah paham terhadap Islam adalah kaum muslimin tidak utuh mempelajari Islam. Setengah-setengah, gitu lho. Kasarnya sih, apa saja dari Islam yang menurutnya baik dan menyenangkan diambil, sementara yang bikin ribet bagi dirinya ditinggalin jauh-jauh. Ini namanya pilah-pilih sesuka nafsunya. Bukan atas pertimbangan akidah dan syariat Islam. Superkacau banget kan pemahamannya?

Shalat akan dilaksanakan kalo dengan shalat ia merasa tentram dan tenang. Jadi bukan atas pertimbangan hukum syara dan ketataan kepada Allah Swt. dalam melaksanakan shalat, tapi karena shalat membuat dia tenang. Itu sebabnya, ia akan mengambil ajaran Islam tentang shalat. Tapi jika menurut hawa nafsunya ajaran shalat itu bisa mengganggu aktivitasnya berbisnis, maka ia akan tinggalkan shalat. Karena menganggap waktu shalat itu mengganggu urusan penting yang dia kerjakan. Daripada memilih menghentikan sementara kepentingan bisnisnya untuk shalat, ia malah memilih kepentingan bisnis dan meninggalkan shalat. Itu namanya gegabah wal bahaya!

Itu sebabnya, setengah-setengah dalam mempelajari Islam berdampak tidak utuhnya pemahaman tentang Islam. Tanggung, gitu lho. Bukan tak mungkin pula jika akhirnya marak bermunculannya para pelaku malpraktik dalam ajaran Islam. Hukum yang wajib dilakukan malah ditinggalkan, tapi yang sunah dikerjakan seolah menjadi kewajiban. Contohnya, banyak para wanita yang getol shalat sunnah tahajjud, tapi kalo keluar rumah rambutnya dibiarkan bebas tanpa ditutupi kerudung dan bagian tubuhnya dengan sukses dilihat orang lain karena tak menutup aurat dengan sempurna (berjilbab). Inilah yang disebut malpraktik alias salah prosedur dalam menjalankan syariat Islam, Bro. Piye iki? Harusnya kan yang wajib dilakukan, yang sunnah juga dikerjakan semampunya.

Nah, mengenai faktor ketiga yang sangat mungkin memicu terjadinya salah paham terhadap Islam adalah banyaknya cendekiawan muslim yang menyampaikan Islam dengan pemahaman yang keliru. Islam yang disampaikan itu sudah dimodifikasi terlebih dahulu, sesuai selera dan keinginan mereka yang dipesankan dari musuh-musuh Islam. Mungkin saja orang yang dianggap sebagai cendekiawan muslim yang menyebarkan pemahaman Islam yang keliru ini nggak nyadar kalo dirinya diperalat oleh musuh-musuh Islam, atau bisa saja mereka tahu bahwa yang disampaikannya itu keliru tapi karena demi jabatan atau harta berlimpah yang dijanjikan kalangan tertentu yang membenci Islam, akhirnya ya mereka lakukan juga tugas salahnya tersebut. Parah!

Sobat, bagi cendekiawan yang nggak nyadar kalo mereka udah menyampaikan Islam secara keliru, karena ia mempelajari Islam dari sumber yang salah. Ada semacam penyusup yang seolah-olah tahu dan paham Islam, tapi karena dianggap ulama atau cendekiawan akhirnya omongannya didengar meskipun sebenarnya menebarkan racun. Contohya, paham pluralisme agama. Menganggap bahwa semua agama benar dan nggak boleh ada agama yang mengklaim kebenaran agamanya. Lha, aneh banget kan?

So, jangan tuduhkan kesalahan kepada Islam, jika banyak kaum muslimin yang hidupnya setengah Islam dan setengah kufur. Itu karena dirinya telah mengambil ajaran Islam semata yang dia suka sembari mengambil jalan hidup lain untuk yang membuat dia juga merasa nyaman. Pilih-pilih sesuka selera hawa nafsunya. Ini bunglon namanya. Padahal, kalo beriman kepada Allah Swt. ya harus jelas dan sepenuhnya. Nggak boleh nyari aman. Allah Swt. udah ngingetin manusia dalam firmanNya (yang artinya):”Dan di antara manusia ada orang yang menyembah Allah dengan berada di tepi; maka jika ia memperoleh kebajikan, tetaplah ia dalam keadaan itu, dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana, berbaliklah ia ke belakang (menjadi kafir kembali). Rugilah ia di dunia dan di akhirat. Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata.” (QS al-Hajj [22]: 11)

Jadi, kalo diri kita udah menjadi muslim, berarti sepenuhnya kita sadar akan peran kita yang sesungguhnya, yakni bukan hanya sekadar melaksanakan ajaran Islam karena kita muslim, tapi juga menjadi penjaga ajaran Islam dan bahkan menjadi pembela dan pejuang Islam. Itu lebih mantap deh! Sumpah! (ya, daripada Islam KTP gitu lho!). Ih, malu dong, kalo diri kita cuma dianggap beragama Islam yang dituliskan di KTP, tetapi jauh dari ajaran Islam. Jangan sampe deh Islam kita cuma nyangkut di KTP doang.

Oya, jangan juga menyalahkan Islam kalo kita hanya mampu menjadi Muslim yang “apa adanya”. Itu kesalahan kita karena nggak mau belajar Islam. Padahal, kita wajib bangga menjadi muslim, karena Islam yang kita peluk adalah agama yang akan menyelamatkan kita di dunia dan di akhirat. Itu sebabnya, yang kita amalkan dan praktikkan BUKAN Islam KTP.solihin

Salam Sahabat
Makna Cinta



بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم 

Cinta”, layaknya makanan pokok, istilah yang satu ini tidak pernah pudar sepanjang jaman. Selalu hadir dimanapun dan kemanapun kita berpaling. Betapa Dasyatnya Fitnah Cinta…. sehingga orang yang sedang dilanda cinta lazimnya akan terfokus untuk mendapatkan yang dicintainya. Akibatnya, tidak sedikit yang menjadi lalai dari mencintai Alloh serta Rasul-Nya. Alloh Subhanahu wa Ta'ala berfirman, yang artinya: “Patutkah kamu mengambil dia (iblis) dan turunan-turunannya sebagai wali selain daripada-Ku , sedang mereka adalah musuhmu? Amat buruklah iblis itu sebagai pengganti (Alloh) bagi orang-orang yang zalim.” (QS: Al-Kahfi: 50).


Sesunguhnya seseorang yang bercita-cita tinggi tidak akan terpengaruh oleh cinta yang bisa menghalangi ketenangan, membuat tidur tidak bisa nyenyak, membuat bingung akal pikiran, dan bahkan bisa membuat gila. Betapa sering terjadi seseorang yang sedang dimabuk cinta menghabiskan harta dan mengorbankan jiwa serta kehornatannya demi yang dicintainya. Bahkan ia rela mengorbankan agama dan dunianya.
Cinta sanggup membuat tuan menjadi pelayan, dan penguasa menjadi budak. Anda lihat, banyak orang yang sudah terlanjur masuk dalam jerat cinta ingin keluar darinya. Akan tetapi, hal itu mustahil. Betapa banyak fitnah cinta yang menjebloskan orang-orang yang bersangkutan ke dalam Neraka Jahim, menjerumuskan mereka pada siksa yang sangat pedih, dan membuat nereka meneguk air nereka yang panas mendidih.


Seorang pemuda yang terlalu lama membujang, kadangkala merasa kesulitan untuk mencari calon istri, keberanian untuk bertandang dan meminang seorang gadis menjadi gamang karena terlalu banyak pertimbangan, akhirnya … pernikahan menjadi sekedar angan-angan karena calon istri belum juga didapatkan. Sulitnya mencari calon istri. “PACARAN” tetap tidak diperbolehkan dan hukumnya haram. Cinta yang dibungkus dengan pacaran, pada hakikatnya hanyalah nafsu syahwat belaka, bukan kasih sayang yang sesungguhnya, bukan rasa cinta yang sebenarnya, dan dia tidak akan mengalami ketenangan karena dia berada dalam perbuatan dosa dan kungkungan nafsu, adapun manisnya perbuatan dan indahnya perkataan dalam pacaran, pada dasarnya hanyalah rayuan-rayuan belaka yang kosong dan hampa, yang mengandalkan permainkan kata-kata, untuk itu..hati- hatilah…



Kebanyakan orang sebelum melangsungkan pernikahan biasanya ‘berpacaran’ terlebih dahulu, hal ini biasanya dianggap sebagai masa perkenalan individu, atau masa penjajakan atau dianggap sebagai perwujudan rasa cinta kasih terhadap lawan jenisnya.
Dengan adanya anggapan seperti ini, maka akan melahirkan konsensus di masyarakat bahwa masa pacaran adalah hal yang lumrah dan wajar, bahkan merupakan kebutuhan bagi orang-orang yang hendak memasuki jenjang pernikahan. Anggapan seperti ini adalah anggapan yang salah dan keliru. Dalam berpacaran sudah pasti tidak bisa dihindarkan dari berdua-duaan antara dua insan yang berlainan jenis, terjadi pandang memandang dan terjadi sentuh menyentuh, yang sudah jelas semuanya HARAM hukumnya menurut syari’at Islam.

Rasululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, yang artinya: “Jangan sekali-kali seorang laki-laki bersendirian dengan seorang wanita, melainkan si wanita itu bersama mahramnya” (Hadits Shahih Riwayat Ahmad, Bukhari 1862 dan Muslim 4/104 atau 1341 dan lafadz ini dari riwayat Muslim dari shahabat Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma)
Ketika Cinta Harus Memilih



Bismillah..
Ketika kita didudukan dalam situasi untuk memilih, tentu naluri kemanusiaan kita akan memilih yang terbaik (best of the best). Lalu bagaimana jika justru ketika pilihan tersebut tidak ada yang memenuhi kriteria kita, haruskah kita tinggalkan dan mencari pilihan lain? Bagaimana jika seandainya pilihan tersebut mutlak yang terakhir? Dan bagaimana jika seandainya pilihan tersebut adalah suatu keputusan yang justru berimplikasi terhadap masa depan kita? Bagaimana seandainya jika justru pilihan tersebut adalah ujian dari Allah Swt sebagai wujud dari kasih sayang-Nya terhadap kita?

Banyak cerita di sekeliling kita yang dapat dijadikan bahan renungan tentang makna pilihan, dan buntutnya tentu masalah cinta. Jangan berpikiran sempit dulu tentang cinta itu sendiri. Cinta bukan hanya cinta antara pasangan suami istri (pasutri), atau cinta antara anak dan orang tua, namun juga termaktub cinta kepada suatu barang, misalnya buku dan lainnya. Bahkan ada seseorang yang sangat mencintai idola-nya, entah itu seorang artis atau aktor film.

Bukan suatu kebetulan jika saya mengetengahkan makna cinta ini kok sepertinya berhubungan dengan hari ‘valentine’ yang sebentar lagi tiba. Jujur saja saya sudah tidak ambil pusing dengan perayaan tersebut semenjak saya tahu bahwa perayaan hari valentine itu sangat jauh dari nilai islami. Bagi saya, cinta itu bersifat universal yang berhak dimiliki dan dinikmati oleh setiap makhluk hidup di bumi Allah ini tanpa batas waktu dan jarak.

Lalu, bagaimana jika kita dihadapkan kepada suatu keharusan untuk memilih satu dari dua pilihan yang ada? Sudahkah kita memaknai bahwa pilihan tersebut adalah yang terbaik menurut Allah Swt untuk kita, bukan sebaliknya.

Suatu kali pernah seorang teman bercerita tentang kehidupan rumah tangganya yang bermasalah. Namun sayangnya hal tersebut dijadikan alasan oleh sang teman untuk membalas-dendam dengan, maaf, berselingkuh dengan orang lain. Saya pun kerap bertanya kepada diri saya sendiri, bukankah ketika kita memutuskan menikahi pasangan kita adalah suatu pilihan yang pasti terbaik dari segala pilihan yang ada?

Tapi tunggu dulu, terbaik menurut siapa?

Allah Swt menganugerahi setiap manusia sebuah bonus yang bernama ‘akal’, mengapa saya katakan ‘bonus’ karena selain manusia, makhluk lain (hewan dan tumbuhan) tidak dianugerahi hal yang sama. Selain itu, sebagai manusia kita pun dianugerahi ‘titel’ khalifah (di bumi) oleh Allah Swt.

“Dia-lah yang menjadikan kamu khalifah-khalifah di muka bumi”. (Faathir:39)

Kembali kepada cerita seorang teman di atas, salahkah dia dengan pilihan hatinya? Salahkah dia ketika meresa kecewa karena pilihannya ternyata jauh dari apa yang dia impikan? Atau ketika dia diberikan pilihan, sudahkah dia memutuskan memilihnya dengan atas nama Allah?

Suami selalu mengingatkan saya untuk tidak terlalu mencintainya kalau bukan karena Allah Swt, karena ketika suatu saat Allah memanggil suami, tidak ada lagi cinta dan tempat bernaung yang tersisa, karena kesemua cinta yang ada sudah dibawanya pergi. Namun, ketika ketika kita mencintainya atas nama Allah, badai rintangan apapun yang menghadang, kita masih dapat berlindung di bawah kasih sayang-Nya karena hanya Allah Swt yang mampu memberikan kesempurnaan perlindungan.

Keputusan sang teman untuk berselingkuh, jelas meletakkan nafsu di atas akal. Bukan hanya tidak akan memecahkan masalah, bahkan akan menambah masalah baru. Akal pun dikorbankan atas nama nafsu semata.

Saya teringat ketika adzan maghrib berkumandang, sebagian kita mungkin sedang asyik menyimak berita demonstrasi di sebuah liputan berita nasional di televisi. Dan pilihan kembali disorongkan kepada diri kita. Mematikan televisi dan langsung berwudhu atau mentolerir diri kita dengan ‘pembenaran’, tokh beritanya tinggal lima menit, dan terus menonton. Kembali akal pun kita korbankan atas nama ‘tinggal lima menit’ ketika kita diberikan suatu pilihan di hadapan kita.

Bangun di waktu subuh ketika adzan berkumandang adalah satu pilihan terberat bagi sebagian orang yang lemah iman. Ketika orang lain sudah melangkah menuju surau/masjid di sisi lain kita mungkin masih enggan beranjak dari dalam selimut. Tidak hiraukan seruan dari surau…. ash shalatu khairun minan naum…

****

Cinta kepada orang lain melebihi cinta kepada suami, cinta kepada liputan berita daripada mendirikan sholat maghrib dan cinta kepada kehangatan selimut kita daripada bergegas ke surau adalah suatu pilihan yang diberikan Allah Swt bagi kaum yang berakal. Sudahkah kita termasuk ke dalam orang-orang yang berakal? Sudah pantaskah kita menjadi khafilah di bumi Allah ini?

Marilah kita bersegera sujud memohon ampun kehadirat-Nya atas segala keterlenaan kita dan atas keterbiusan kita akan gemerlap duniawi yang sebenarnya tiada kekal. “Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah).” (Al-Baqarah:269)

Lalu, cinta manakah yang akan Anda pilih? Wallaahu’alam bishshowab
Facebook in Love



Bismillahirrahmanirrahim..

Sudah hampir satu bulan aku ta’aruf denganya, bahkan kata-kata mesra pun sering kali tersisipi dalam chating kami atau ketika dia menelponku. Baru dua kali dia menelponku, namun hati ini sangat ingin untuk terus menelponnya. Maka SMS adalah pilihan terakhirku bila dia gak terlihat di Facebook. Belum lagi kalo dia sudah memberikan kata-kata cinta yang terbentuk dalam sebuah syair untukku, serasa dunia ini hanyalah untukku dan dirinya.

“ Akhi, kapan kamu mau datang kerumah ? “

“ Insyaallah ukhti secepatnya. Kalo pun aku ke rumah, aku belum bisa melamarmu “

“ Kenapa akhi ? “ Mataku terbelalak melihat ketikannya yang menusuk hatiku.

“ Aku masih belum kerja mapan, keadaanku masih seperti yang ukhti tau “

“ Aku bisa terima keadaanmu akhi “

“ Afwan ukhti, mengertilah “

“ Aku gak menuntut akhi untuk segera menikahiku. Aku hanya ingin akhi membuktikan keseriusan. Itu saja “

“ Ukhti gak percaya denganku ? “

Percakapan ini selalu berakhir dengan pertengkaran. Tak ada kejelasan hubungan ini mau diarahkan kemana. Tapi aku pun tak mampu untuk kehilangannya. Aku masih berharap banyak padanya.

======================================

Ada yang pernah ngalamin ?? Hubungan yang seakan tak ada arah tujuan. Ta’aruf yang hanya sebatas nama, namun didalamnya terdapat hubungan yang tak jauh beda dengan pacaran. Pacaran berselimut ta’aruf. Makanya banyak yang akhirnya menyalahartikan ta’aruf sama dengan pacaran.

Terus bagaimana bisa mengenalnya ??

Sekali lagi, ta’aruf beda dengan pacaran. Ta’aruf bukan pacaran. Jadi ta’aruf gak perlu tuh dengan SMS cinta, Chatingan atau status mesra-mesraan. Gak banget deh.

Toh berkenalan juga gak harus dengan pacaran kan ?? terus ngapain pacaran, rugi materi, rugi waktu juga rugi hati. Bayangin aja, belum jadi suami istri udah cemburu-cemburuan, udah saling tuduh, lalu patah hati, jadi capek hati dan rugi juga pacaran Cuma buat sakit-sakitan.

Ta’aruf gak gitu deh !!!

Ta’aruf di facebook yang merasa semua sudah serba halal tentu berbeda dengan ta’aruf syari yang seharusnya. Kalo Cuma di facebook doank, mana tahu kalo si dia serius. Emang yakin kalo si dia gak ta’arufan sama yang lain juga ??

Atau kamu punya solusi sendiri dengan mencantumkan identitas pasanganmu sebagai ‘tunangan’ di facebookmu. Jadi seolah-olah kalo sudah tunangan menjadi hal biasa untuk mesra-mesraan. Memang kalo udah tunangan boleh gitu mesra-mesraan, tunangan itu bukan akad lho, bukan terpatri disebuah pernikahan. Masih belum halal juga kan ?? Kenapa jadi ngerasa kalo udah ta’aruf atau ‘tunangan’ jadi bisa serba halal ??

Sebuah ta’aruf syari, tak akan ada kata cinta sebelum pernikahan. Ta’aruf tentunya gak bisa dilakukan di facebook, karna ta’aruf butuh pihak ketiga yakni wali atau mahrom dari masing-masing pihak. Ta’aruf ini pun gak serta merta semua jadi halal, gak ada sms cinta atau chatingan mesra. Gak ada komunikasi yang berlebihan, hanya menghubungi jika benar-benar penting saja. Mentang-mentang lagi masa ta’aruf , jadi sering SMS an atau telponan nanyain hal yang gak penting. Gak ada yang seperti ini.

Kalo mau tahu calon tanpa berhubungan dengannya gimana donk ??

Kamu dan dia kan punya kerabat dan sahabat kan ?? Kamu bisa tanya kepada mereka, atau kalo perlu langsung tanya pada walinya. Kamu bisa tanya tentang kehidupannya, karakternya, bagaimana dia terhadap lingkungan atau hal lain yang kamu butuhkan untuk kemaslahatan pernikahanmu nanti. Dan tentunya mereka yang kamu tanya harus memberikan informasi yang kamu butuhkan.

Tentu hal ini akan menjaga hatimu dan hatinya, izzahmu dan izzahnya, iffahmu dan iffahnya. Tak perlu pacaran berselimut ta’aruf kan untuk mengenalnya. Masih ada ta’aruf yang benar-benar ta’aruf.

Udah deh, jangan takut kehilangan si dia. Kalo kamu yakin meninggalkan perkara bathil untuk melangkah pada kebenaran, Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan menggantikannya dengan yang lebih baik. Yakinilah itu.

Wallahua’lam bish Shawwab.

Bukan Muslimah Biasa 
Ada Apa Dengan Niat ???



 

Niat Yang Baik harus Disertai dengan cara yang baik Jika tidak, hasilnya akan menjadi terbalik...

Setelah melalu perenungan panjang dan bermuhasabah diri, ku temukan sebuah kata-kata itu, ku perhatikan sekelilingku.. ku perhatikan komen-komen dari sahabat disini.. Banyak yang merasa BENAR walaupun berpijak di jalan yang SALAH.Bukan..bukan salah dan benar menurut pandangan saya sendiri,tapi karena menyalahi perintah dan larangan Allah yang tertulis jelas dalam Al-Qur'an, Kenapa??? Kita sering membela diri dengan kata "Yang penting kan niatnya.. Yang penting kan niat yang utama" Betul ! namun pernahkah kita berfikir sejenak.. Niat baik atau niat yang suci juga harus dibarengi dengan jalan yang suci pula. Kalo niatnya memang untuk meraih RIdha Allah.. langkahnya pun harus melewati jalan yang di ridhai-Nya pula bukan???


Mengapa niat baik tanpa cara yg baik akan mendapat hasil yang tidak baik (terbalik)
Mari kita ambil contoh mudah.. Alasan kita BERPACARAN adalah dengan niatan mengenal pasangan untuk kemudian menikah dengannya. Niatnya sudah baik .. hanya ingin sekedar mengenal pasangan lalu menikahinya untuk menyempurnakan setngah dien (agama), Tapi caranya itu lho.. kenapa musti pake pacaran?? Islam punya cara sendiri untuk mengenal pasangan sebelum pernikahan , pacaran itu bukan budaya Islam melainkan budaya kafir. Nah.. karena niat baik tadi memakai cara yang tidak baik ( tidak halal) hasilnya akan menjadi tdk baik, kenapa? Bukankah tidak sedikit dari mereka yang berpacaran berakhir dengan perzinahan??? Bukankah tidak sedikit dari kita yang berakhir dengan air mata kecewa??? Ada yang tidak terima dengan kata ZINA, Katanya "kita pacarannya masih dalam batas, tidak melanggar norma-norma agama.. apalagi sampe berzina." Hmmm... Jangan terlalu sempit memaknai kata ZINA .. ZiNA dalam islam mempunyai makna yang luas tidak hanya ber******h. Bukankah dalam pacaran tidak bisa menundukkan pandangan walaupun bisa menghindari sentuhan?? Sedangkan dalam Al-Qur'an sendiri Allah memerintahkan kita untuk menundukkan pandangan.

Lalu.. apa yang di maksud masih dalam batas, jika pacaranmu paling sehat dengan bergandengan tangan dan ngobrol berduaan??? Sedangkan menyentuh wanita/laki-laki yang bukan mahrom dan berkhalwat itu sudah jelas keharamannya???
Pacaran itu di larang dalam Islam bukan tanpa alasan kawan. Islam tidak melarang umatnya untuk jatuh cinta, Islam hanya mengatur umatnya yang sedang jatuh cinta untuk tetap menempatkan cinta Allah yang utama. Islam hanya ingin mengatur agar umatnya tidak lupa tujuan utama kita di ciptakan karena terbuai oleh rasa cinta. Islam hanya ingin mengatur agar dua insan yang saling mencinta untuk bertanggung jawab atas rasa cintanya dengan menghalalkannya bukan mengumbar nafsu sesaat kemudian berlalu tanpa ada pertanggung jawaban. Karena jika Islam tidak mengatur kemshlahatan umatnya.. Kita sebagai manusia lebih suka bertindak semau sendiri.. kalo kata org jawa mah Sakarepe dewek ^_^

Kalau kamu berdalih bahwa pacaranmu tidak melanggar norma agama, tidak mendekati zina, atau merasa tidak bermaksiat kepada Allah.. Oke, sampaikan semua alasanmu itu kepada Allah langsung.. Kepada Allah yang mendatangkan KEBENARAN dan membuat ATURAN untuk manusia. Tapi, tanyakan sendiri pada hatimu.. Masihkah ia banyak mengingat Allah dari pada pacarmu? Masihkah hatimu selalu merindukan Allah dr pada Pacarmu?? Masihkah Sholatmu khusuk atau malah bayangan kekasihmu selalu mengikuti kemanapun kau pergi??? 

Ataupun ketika kedua insan yang berpacaran tadi akhirnya menikah.. apakah kita pikir semua sudah berakhir?? Belum kawan.. Semuanya akan tetap kita pertanggung jawabkan di hari pembalasan kelak. Wallahu'alam Bi shawab

"Islam tidak akan melarang suatu perbuatan kalau perbuatan tersebut tidak merusak jiwa dan tidak akan menyuruh kalau suruhan itu tidak membawa selamat dan bahagianya jiwa" 


Kesalahan datangnya dari penulis dan kebenarna datangnya dr Allah
Maafkan jika da kata yg kurang berkenan. Barokallahu Fiikum
Musik Dalam Hukum Islam



HUKUM MENYANYI DAN MUSIK DALAM FIQIH ISLAM.
assalamualaikum warohmatullah hiwabarakatu.

di baca dulu ya baru like biar sama-sma dpt ilmunya. 
:) ♥

Afwan untuk sahabat baru selesai ana tulis karna ana butuh buku yang menguatkan dan jujur sulit untuk memparkan dan merangkai kata-kata dalam hukum menyanyi . ana suka mendengar lagu-lagu hadad alwi dan sulis serta rehana dan penyanyi yang suaranya merdu untuk ana Dato Siti nurhalizah.

ana hanya melihat disekitar ana dan Tulisan ini bertujuan menjelaskan secara ringkas hukum musik dan menyanyi dalam pandangan fiqih Islam. Diharapkan, norma-norma Islami yang disampaikan Selain itu, tentu saja perumusan tersebut diharapkan akan bermuara pada pengamalan konkret di lapangan, berupa perilaku Islami yang nyata dalam aktivitas bermain musik atau melantunkan lagu. Minimal di kampus atau lingkungan kita kebanyakan konser yang dilakukan di daerah yang peminatnya kebanyakan pemuda dan pemudi ana gak pernah melihat konser di kota ana meskipun sering di gor pangsuma ana gak pernah peduli ya terkadang ana di bilang kolot,cupu, culun apalah dan gak gaul.

dulu masih SMA ana gak tau nyanyian ada yang diharamkan meskipun ana belajar di pesantren Al-Badar tapi ada hal yang tidak ana ketahui mungkin karna minimnya ana dalam pengetahuan yang tak pernah ana Tanya sebelumnya.
jadi alasan ana murni karna ana memang gak suka dengan keriuhan dan tempat-tempat seperti konser-konser banyak kerugian jika ana pergi ya salah satu nya waktu yang tak bermanfaat bukankah manusia hidup dalam kerugian ?
ana tahu nyanyian ada yang haram setelah libur kelulusan SMA ana pergi ke jawa timur tepatnya di pesantren Abah (paman ana). Disana ana mempelajari banyak hal. awalnya tak ada niat untuk membuat tulisan ini karna ana pun merasa kurang wawasan dalam hal ini. Tapi karna seorang teman ingin meminta penyedian konteks ini ana berusaha untuk menulis dan mencari sumber-sumbernya. 
Alhamdulillah berkat do’a sahabat semua tulisan ini selasai insyallah dengan kerido’an Allah. 

Banyak generasi muda saat sekarang
Jika ada konser waduh cepet banget nyerbunya sambil loncat-loncat nyanyi waduh
Gubrak -_-“ Keprihatinan yang dalam akan kita rasakan, kalau kita melihat ulah generasi muda Islam saat ini yang cenderung liar dalam bermain musik atau bernyanyi. Mungkin mereka berkiblat kepada penyanyi atau kelompok musik terkenal yang umumnya memang bermental bejat dan bobrok serta tidak berpegang dengan nilai-nilai Islam. Atau mungkin juga, mereka cukup sulit atau jarang mendapatkan teladan permainan musik dan nyanyian yang Islami di tengah suasana hedonistik yang mendominasi kehidupan saat ini. 

Tak dapat diingkari, kondisi memprihatinkan tersebut tercipta karena sistem kehidupan kita telah menganut paham demokrasi kebebasan, dan sekularisme ,yang sangat bertentangan dengan Islam. Muhammad Quthb mengatakan sekularisme adalah iqamatul hayati ‘ala ghayri asasin minad dîn, artinya, mengatur kehidupan dengan tidak berasaskan agama (Islam). Atau dalam bahasa yang lebih tajam, sekularisme menurut Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani adalah memisahkan agama dari segala urusan kehidupan (fashl ad-din ‘an al-hayah) (Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani, Nizhâm Al-Islâm, hal. 25). 

Saya rasa system sikularisme sekarang banyak kita jumpai seperti di sekolah2 umum yg menjauhkan dari agama seperti terbentuknya bumi meraka beraggapn bumi scra Alam bkan bdasarkan Al_qUR’an dn berkata tolong jangn mnyakut pautkan dngn agama. 

Padahal Ia tahu kebenaran AL_Qur’an sudah jelas terbentuknya alam ini di paparkan dan di jabarkan di Al_Qur’an Dengan demikian, sekularisme sebenarnya tidak sekedar terwujud dalam pemisahan agama dari dunia politik, tetapi juga nampak dalam pemisahan agama dari urusan pendidikan, seni budaya, termasuk seni musik dan seni vokal (nyanyian).

Tanpa kalian sadari kalian telah di pancing dengan budaya-budaya barat yang menjauhkan syari’ah sayari’ah islam. Dengan faham-faham barat seperti demokrasi, nasionalisme, sekularisme.

Kondisi ini harus segera diakhiri dengan jalan mendobrak dan merobohkan sistem kehidupan sekuler yang ada, lalu di atas reruntuhannya kita bangun sistem kehidupan Islam, yaitu sebuah sistem kehidupan yang berasaskan semata pada Aqidah Islamiyah sebagaimana dicontohkan Rasulullah Saw dan para shahabatnya. Inilah solusi fundamental dan radikal terhadap kondisi kehidupan yang sangat rusak dan buruk sekarang ini, sebagai akibat penerapan paham sekulerisme yang kufur. Namun demikian, di tengah perjuangan kita mewujudkan kembali masyarakat Islami tersebut, bukan berarti kita saat ini tidak berbuat apa-apa dan hanya berpangku tangan menunggu perubahan. Tidak demikian. Kita tetap wajib melakukan Islamisasi pada hal-hal yang dapat kita jangkau dan dapat kita lakukan, seperti halnya bermain musik dan bernyanyi sesuai ketentuan Islam dalam ruang lingkup kampus kita atau lingkungan kita.


Berikut sebagian dalil masing-masing, seperti diuraikan oleh al-Ustadz Muhammad al-Marzuq Bin Abdul Mu’min al-Fallaty mengemukakan dalam kitabnya Saiful Qathi’i lin-Niza’ bab Fi Bayani Tahrimi al-Ghina’ wa Tahrim Istima’ Lahu (Musik.http://www.ashifnet.tripod.com/),/ juga oleh Dr. Abdurrahman al-Baghdadi dalam bukunya Seni dalam Pandangan Islam (hal. 27-38), dan Syaikh Muhammad asy-Syuwaiki dalam Al-Khalash wa Ikhtilaf an-Nas (hal. 97-101):

A. DALIL-DALIL YANG MENGHARAMKAN NYANYIAN:

a. Berdasarkan firman Allah: “Dan di antara manusia ada orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna (lahwal hadits) untuk menyesatkan manusia dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu ejekan. Mereka itu akan memperoleh adzab yang menghinakan.” (Qs. Luqmân [31]: 6)
Beberapa ulama menafsirkan maksud lahwal hadits ini sebagai nyanyian, musik atau lagu, di antaranya al-Hasan, al-Qurthubi, Ibnu Abbas dan Ibnu Mas’ud.

Ayat-ayat lain yang dijadikan dalil pengharaman nyanyian adalah Qs. an-Najm [53]: 59-61; dan Qs. al-Isrâ’ [17]: 64 (Abi Bakar Jabir al-Jazairi,Haramkah Musik Dan Lagu? (al-I’lam bi Anna al-‘Azif wa al-Ghina Haram), hal. 20-22).

b. Hadits Abu Malik Al-Asy’ari ra bahwa Rasulullah Saw bersabda:
“Sesungguhnya akan ada di kalangan umatku golongan yang menghalalkan zina, sutera, arak, dan alat-alat musik (al-ma’azif).” [HR. Bukhari, Shahih Bukhari, hadits no. 5590].

c. Hadits Aisyah ra Rasulullah Saw bersabda:
“Sesungguhnya Allah mengharamkan nyanyian-nyanyian (qoynah) dan menjualbelikannya, mempelajarinya atau mendengar-kannya.” Kemudian beliau membacakan ayat di atas. [HR. Ibnu Abi Dunya dan Ibnu Mardawaih].

d. Hadits dari Ibnu Mas’ud ra, Rasulullah Saw bersabda:
“Nyanyian itu bisa menimbulkan nifaq, seperti air menumbuhkan kembang.” [HR. Ibnu Abi Dunya dan al-Baihaqi, hadits mauquf.

e. Hadits dari Abu Umamah ra, Rasulullah Saw bersabda:
“Orang yang bernyanyi, maka Allah SWT mengutus padanya dua syaitan yang menunggangi dua pundaknya dan memukul-mukul tumitnya pada dada si penyanyi sampai dia berhenti.” [HR. Ibnu Abid Dunya.].

f. Hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu ‘Auf ra bahwa Rasulullah Saw bersabda:
“Sesungguhnya aku dilarang dari suara yang hina dan sesat, yaitu: 1. Alunan suara nyanyian yang melalaikan dengan iringan seruling syaitan (mazamirus syaithan). 2. Ratapan seorang ketika mendapat musibah sehingga menampar wajahnya sendiri dan merobek pakaiannya dengan ratapan syetan (rannatus syaithan).”

B. DALIL-DALIL YANG MENGHALALKAN NYANYIAN:

a. Firman Allah SWT:
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu haramkan apa-apa yang baik yang telah Allah halalkan bagi kamu dan janganlah kamu melampaui batas, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang melampaui batas.” (Qs. al-Mâ’idah [5]: 87).

b. Hadits dari Nafi’ ra, katanya:
Aku berjalan bersama Abdullah Bin Umar ra. Dalam perjalanan kami mendengar suara seruling, maka dia menutup telinganya dengan telunjuknya terus berjalan sambil berkata; “Hai Nafi, masihkah kau dengar suara itu?” sampai aku menjawab tidak. Kemudian dia lepaskan jarinya dan berkata; “Demikianlah yang dilakukan Rasulullah Saw.” [HR. Ibnu Abid Dunya dan al-Baihaqi].

c. Ruba’i Binti Mu’awwidz Bin Afra berkata:
Nabi Saw mendatangi pesta perkawinanku, lalu beliau duduk di atas dipan seperti dudukmu denganku, lalu mulailah beberapa orang hamba perempuan kami memukul gendang dan mereka menyanyi dengan memuji orang yang mati syahid pada perang Badar. Tiba-tiba salah seorang di antara mereka berkata: “Di antara kita ada Nabi Saw yang mengetahui apa yang akan terjadi kemudian.” Maka Nabi Saw bersabda:

“Tinggalkan omongan itu. Teruskanlah apa yang kamu (nyanyikan) tadi.” [HR. Bukhari, dalam Fâth al-Bârî, juz. III, hal. 113, dari Aisyah ra].
d. Dari Aisyah ra; dia pernah menikahkan seorang wanita kepada pemuda Anshar. Tiba-tiba Rasulullah Saw bersabda:
“Mengapa tidak kalian adakan permainan karena orang Anshar itu suka pada permainan.” [HR. Bukhari].

e. Dari Abu Hurairah ra, sesungguhnya Umar melewati shahabat Hasan sedangkan ia sedang melantunkan syi’ir di masjid. Maka Umar memicingkan mata tidak setuju. Lalu Hasan berkata:

“Aku pernah bersyi’ir di masjid dan di sana ada orang yang lebih mulia daripadamu (yaitu Rasulullah Saw)” [HR. Muslim, juz II, hal. 485.
Karena itu, jika ada dua kelompok dalil hadits yang nampak bertentangan, maka sikap yang lebih tepat adalah melakukan kompromi (jama’) di antara keduanya, bukan menolak salah satunya. Jadi kedua dalil yang nampak bertentangan itu semuanya diamalkan dan diberi pengertian yang memungkinkan sesuai proporsinya. Itu lebih baik daripada melakukan tarjih, yakni menguatkan salah satunya dengan menolak yang lainnya. Dalam hal ini Syaikh Dr. Muhammad Husain Abdullah menetapkan kaidah ushul fiqih:
Al-‘amal bi ad-dalilaini —walaw min wajhin— awlâ min ihmali ahadihima “Mengamalkan dua dalil —walau pun hanya dari satu segi pengertian— lebih utama daripada meninggalkan salah satunya.” (Syaikh Dr. Muhammad Husain Abdullah, Al-Wadhih fi Ushul Al-Fiqh, hal. 390).

Atas dasar itu, kedua dalil yang seolah bertentangan di atas dapat dipahami sebagai berikut : bahwa dalil yang mengharamkan menunjukkan hukum umum nyanyian. Sedang dalil yang membolehkan, menunjukkan hukum khusus, atau perkecualian (takhsis), yaitu bolehnya nyanyian pada tempat, kondisi, atau peristiwa tertentu yang dibolehkan syara’, seperti pada hari raya. Atau dapat pula dipahami bahwa dalil yang mengharamkan menunjukkan keharaman nyanyian secara mutlak. Sedang dalil yang menghalalkan, menunjukkan bolehnya nyanyian secara muqayyad (ada batasan atau kriterianya) (Dr. Abdurrahman al-Baghdadi, Seni Dalam Pandangan Islam, hal. 63-64; Syaikh Muhammad asy-Syuwaiki, Al-Khalash wa Ikhtilaf an-Nas, hal. 102-103).

Dari sini kita dapat memahami bahwa nyanyian ada yang diharamkan, dan ada yang dihalalkan. Nyanyian haram didasarkan pada dalil-dalil yang mengharamkan nyanyian, yaitu nyanyian yang disertai dengan kemaksiatan atau kemunkaran, baik berupa perkataan (qaul), perbuatan (fi’il), atau sarana (asy-yâ’), misalnya disertai khamr, zina, penampakan aurat, ikhtilath (campur baur pria–wanita), atau syairnya yang bertentangan dengan syara’, misalnya mengajak pacaran, mendukung pergaulan bebas.

mempropagandakan sekularisme, liberalisme, nasionalisme, dan sebagainya. Nyanyian halaldidasarkan pada dalil-dalil yang menghalalkan, yaitu nyanyian yang kriterianya adalah bersih dari unsur kemaksiatan atau kemunkaran. Misalnya nyanyian yang syairnya memuji sifat-sifat Allah SWT, mendorong orang meneladani Rasul, mengajak taubat dari judi, mengajak menuntut ilmu, menceritakan keindahan alam semesta, dan semisalnya (Dr. Abdurrahman al-Baghdadi, Seni Dalam Pandangan Islam, hal. 64-65; Syaikh Muhammad asy-Syuwaiki, Al-Khalash wa Ikhtilaf an-Nas, hal. 103).

Jika kita tela’ah dari segi faham yang kita anut yaitu demokrasi, nasionalisme, dan faham2 lainnya adalah faham dari barat dari kota yunani di anthena dengan faham ini muslim di operrandakkan yang mengikis keimanan muslim secara perlahan jika ana paparkan sejarah dahulu mungkin tak cukup note ini.
Baca buku eropa lama masuknya islam ke daratan eropa dan terbentuknya faham-faham di dunia dari Negara Sparta yang mampu menguatkan dalam kemeliteran dan anthena dengan system pemerintahan yang kokoh.
Kelemahan akidah akan berakibat pada amal dan produktivitas mereka. Dengan semakin luasnya kerusakan itu, maka orang-orang yang memusuhi Islam akan mudah mengalahkan mereka. Menjajah negeri mereka dan menghinakan mereka di negeri mereka sendiri.

Sejarah membuktikan bahwa umat Islam generasi awal sangat memperhatikan tauhid sehingga mereka mulia dan memimpin dunia. 
Sejarah juga mengajarkan kepada kita, ketika umat Islam mengabaikannnya akidah, mereka menjadi lemah. Kelemahan perilaku dan amal umat Islam telah memberi kesempatan orang-orang kafir untuk menjajah negeri dan tanah air umat Islam

Saya pernah berkata jika saya ingin menangkap ayam saya tak perlu mengejar ayam tersebut jauh-jauh sampai saya lelah cukup dengan segenggam beras maka ayam akan datang dengan sendirinya kepada saya
Nah Begitulah barat memperlakukan kalian tanpa kalian sadari dengan kebudayan-kebudayaan barat yang menjauhkan dari syaria’ah islam dan mengikis iman mu.

• Dan adapun orang yang di dalam hati mereka ada penyakit , maka dengan surat itu bertambah kekafiran mereka, di samping kekafirannya (yang telah ada) dan mereka mati dalam keadaan kafir. (QS. 9:125)
Wallahu a’lam bi ash-showab.
Buku yang di ambil 

Daftar pustaka 
Abdullah, Muhammad Husain. 1995. Al-Wadhih fi Ushul Al-Fiqh. Cetakan II. (Beirut : Darul Bayariq).Al-Amidi, Saifuddin. 1996. Al-Ihkam fi Ushul Al-Ahkam. Juz I. Cetakan I. (Beirut : Darul Fikr). Al-Baghdadi, Abdurrahman. 1991. Seni Dalam Pandangan Islam. Cetakan I. (Jakarta : Gema Insani Press).Al-Jazairi, Abi Bakar Jabir. 1992. Haramkah Musik dan Lagu ? (Al-I’lam bi Anna Al-‘Azif wa Al-Ghina Haram). Alih Bahasa oleh Awfal Ahdi. Cetakan I. (Jakarta : Wala` Press).
Kalau Cinta Jangan Cengeng



Afwan .. mungkin judulnya gak nyambung sama isinya *^__^* soalnya Afya bingung milihin judul yang menarik minat pembaca ... ^__^

(http://www.facebook.com/pages/Mencintai-karena-Allah-Uhibbuki-fillah-/198909196796350)

Bissmillah...

Sahabat Firahmatillah.. Siapa sih yang belum pernah jatuh cinta? Semua yang merasa sudah remaja dan beranjak dewasa pasti pernah merasakannya ... atau mungkin ada yang saat ini sedang di landa asmara ^__^

hayooo.. Yang ngerasa pasti senyum-senyum sendiri bacanya ^__^

Jatuh Cinta memang hal yang indah.. betapa tidak? Karena CINTA segalanya menjadi indah.. Ketika hati telah terpaut dengan seseorang dan hati sudah merasa yakin dengan pilihannya, tanpa sadar kita menjadi manusia pengecut.. ada rasa takut yang menggelayut.. ya! rasa takut akan kehilangan orang yang telah menciptakan keindahan di hidup kita, rasa takut tidak dapat memilikinya, rasa khawatir tak dapat melewatkan kehidupan bersamanya. Dari sini.. Manusia mulai mencari cara agar sang kekasih menjadi miliknya, sudah terlanjur cinta katanya,,, TAK SANGGUP BILA HARUS HIDUP TANPANYA.. hidupku tak ada artinya. MasyaAllah... ^__^



Islam mengajarkan kpd umatnya untuk lebih bijak menjalani hidup dan menyikapi berbagai macam ujian yang datang. Kenapa harus takut kehilangan? Bukankah segalanya datang dari Allah dan akan kembali kepada Allah?? 

Kenapa harus khawatir tak dapat melewatkan kehidupan bersamanya? Bukankah seandainya dia memang seseorang yang Allah takdirkan untuk kita siapapun tidak dapat menghalangi kita bersatu dengannya??

Kenapa harus tak sanggup hidup tanpanya?? Siapakah yang telah menghidupkan kita? siapakah yang telah meniupkan ruh ke dalam jasad kita? siapakah yang memberi rizki dan menciptakan kebahagiaan untuk kita? kekasihkah? Tentu saja bukan kan? Allah.. ya Allah yg menghidupkan dan mematikan kita.. lalu,kenapa kita merasa tak sanggup hidup bila tanpa kekasih sedangkan yang memberi kita kehidupan adalah Allah SWT.

Kenapa berkata hidup kita tak ada artinya bila kekasih yang teramat kita cinta pergi meninggalkan kita begitu saja... Apakah kita berfikir kita di ciptakan di dunia tanpa arti?? Tidak kawan !!!



Allah SWT berfirman yg artinya :

"Dan Tidak Aku ciptakan jin dan Manusia melainkan hanya untuk beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz –Dzariyat: 56 ).



Tidak perlu kekeuh hanya menginginkan satu orang dalam hidup kita, karena kita tidak pernah tahu apakah ia sudah baik di Mata Allah untuk kita. Seperti halnya sahabat semua, dulu akupun pernah jatuh cinta.. Kepada seorang ikhwan yang tadinya ku anggap baik.. dari keluarga yang beragama.. bahkan diapun aktif mengisi khutbah Jum'at. Semasa Ta'aruf perasaanku sudah yakin padanya.. Dia ikhwan yang sederhana namun berkharisma, pemahaman agamanya membuatku terpesona...aku sudah 90% percaya , aku sudah yakin dia adalah orang yang tepat karena seperti pesan Rasulullah agar kita memilih pasangan yang baik agamanya bukan?. Namun sahabat fillah.. Aku tidak pernah berani memohon kepada Allah dengan do'a " Ya Allah.. aku sangat mengaguminya, aku mohon jodohkan kami ya Allah ... " meski pada saat itu aku sudah 90% yakin. bagaiamana aku tidak yakin sedangkan sahabat dekatku adalah tetangganya.

TIDAK !!! aku tidak pernah berdo'a seperti itu kawan.. karena aku tidak tau apakah dia benar-benar yang terbaik untukku .. bagaimana mungkin aku hanya menginginkan dia seorang sedangakan aku tidak pernah tahu apakah dia benar-benar pria yang Allah pilihkan untuk menjadi imamku?? 

Sahabat ingin tahu apa isi do'aku?

" Ya Allah.. Jika memang dia yang terbaik untukku dan bersatunya kami dapat menjadikan awal untuk kami melangkah bersama untuk semakin mencintai-Mu dan menjadikan pernikahan kami pernikahan yang penuh keberkahan ,kebahagiaan abadi di dunia dan akhirat kami.. satukanlah kami dalam ikatan suci, namun jika bersatunya kami hanya akan saling memberi kekecewaan dan penyesalan, berikanlah kami kelapangan hati untuk mengikhlaskan kehendak-Mu memisahkan kami.. Engkau yang Maha Tahu, hamba memohon yang terbaik menurut Engkau karena yang terbaik menurut hamba belum tentu terbaik menurut Engkau, ku pasrahkan semua hanya pada-Mu ya Allah... amin"



Sahabat.. Dan ternyata takdir berkata lain, Allah tidak menghendaki kami bersatu... Allah telah membukakan mataku, Allah telah memperlihatkan semua keburukannya.. Membongkar semua rahasianya Dan akupun berhenti mengaguminya... ta'arufpun berhenti dalam hitungan minggu.. Dan aku bersyukur karena Allah telah mengabulkan do'aku yang demikian. Entah bagaimana jadinya andai aku berdo'a di jodohkan dengannya.. harus dengan dia?? Astaghfirullah... ^__^



Sahabat.. Semoga kisahku dapat menjadi pelajaran ... 



Cinta Karena Allah itu tidak takut kehilangan...

Cinta Karena Allah itu penuh dengan pengorbanan...

Cinta Karena Allah itu jauh dari kemaksiatan...

Cinta Karena Allah itu di hiasi kesabaran.... 

Cinta Karena Allah adalah cinta suci nan hakiki.. kekal abadi sampai ke Surga ^_^